Detail Berita

Harga Batu Bara Turun, Sudah Siapkah Kaltim ?

Senin, 14 Oktober 2019 | Oleh: Humas DPRD Prov
Harga Batu Bara Turun, Sudah Siapkah Kaltim ?

SAMARINDA. Tren menurunnya harga batu bara kembali terlihat di awal dan pertengahan Tahun 2019. Harga Batu bara Acuan (HBA) sendiri dipengaruhi rendahnya konsumsi batu bara di Tiongkok yang berpengaruh kepada kondisi harga di pasar global.

Kondisi itu berimbas kepada negara-negara produsen termasuk Indonesia. Kaltim sebagai provinsi yang mengandalkan pendapatan daerahnya dari sektor tambang paling merasakan dampaknya terhadap perekonomian daerah.

Sejumlah perusahaan batu bara terlihat sudah mulai melakukan pengetatan pengeluaran bahkan berencana merumahkan sebagian besar karyawannya secara bertahap. Apabila penurunan terus terjadi hingga awal tahun depan dikhawatirkan kondisi terpuruknya ekonomi Kaltim di tahun 2016-2017 akan kembali terulang.

Anggota DPRD Kaltim Henry Pailan Tandi Payung menuturkan hampir seluruh komoditi termasuk sektor tambang pernah pengalami tren menurunnya harga jual. Justru disitulah terlihat bagaimana keseriusan pemerintah dalam mempersiapkan agar daerah tidak merasakan dampak yang cukup besar.

?Inikan bukan hal yang baru, sudah biasa harga komoditas batu bara turun naik. Ini pelajaran bersama khususnya kepada Pemprov Kaltim untuk benar-benar fokus dan serius kepada pengembangan sektor non tambang,? katanya.

Menurutnya, ketergantungan pada sektor tambang cepat atau lambat akan memberikan dampak buruk bagi Kaltim. Pasalnya, selain tren turunnya harga batu bara dan semakin menipisnya cadangan sumber daya alam menjadi dua faktor utama yang pasti akan dihadapi.  

Ia menyebutkan, sepuluh tahun terakhir Kaltim terfokus kepada pembangunan mega proyek, hal itu mempengaruhi terhadap program pengembangan disejumlah bidang. Oleh sebab itu sudah saatnya pemerintah saat ini memfokuskan kepada program peningkatan SDM dan sumber daya terbaharukan.

Semua itu, dapat dilakukan dengan melakukan rapat koordinasi antara Pemprov dan kabupaten/kota se-Kaltim guna mencapai satu kesepahaman bersama sehingga tujuan akan mudah tercapai secara maksimal.

“Tata ruang wilayah Kaltim juga seharusnya dievaluasi, khususnya pada penetapan kawasan mana saja yang menjadi fokus dalam pengembangan pertanian, perkebunan, hingga pariwisata. Jadi jangan sampai kawasan pertanian berubah status menjadi kawasan pertambangan,? jelasnya.

Dicontohkannya, sebagai daerah yang secara geografis memiliki luasan wilayah banyak memiliki hutan dan lahan tidur, Kaltim menjadi surga bagi pertanian dalam arti luas. Hanya saja hingga saat ini masih belum dikembangkan secara maksimal.

Padahal, mencontoh Provinsi Sulawesi Selatan yang mampu menciptakan swasembada beras bahkan tidak hanya beras, tetapi berbagai jenis buah-buahan dan sayuran mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan disejumlah daerah di tanah air.  ?Beras dan masih banyak lagi komoditi yang mampu dikembangkan yang dapat menjadi sumber pendapatan daerah dan peningkatan perekonomian masyarakat,? imbuhnya.

Politkus Gerindra itu menambahkan pariwisata juga merupakan bagian yang tidak bisa dipandang sebelah mata, buktinya daerah seperti Bali dan Yogyakarta berhasil mengelola pariwisata menjadi sektor andalannya. Keuntungan dari sektor pariwisata tidak akan habis sebagaimana pertambangan bahkan cenderung meningkat dan berkembang apabila dikelola secara maksimal.

?Mulailah serius dari sekarang, karena wisata di Kaltim sangatlah banyak dan beragam jenisnya, seperti Derawan, Maratua dan banyak lagi yang sudah dilirik wisatawan dan investor baik dalam maupun luar negeri. Bahkan akses sarana dan prasarananya sudah dibenahi, termasuk badara. Bahkan, kerjasama dengan negara benua biru untuk pembangunan hotel bawah laut. Belum karst, batu dinding dan masih banyak lainnya,? pungkasnya. (adv/hms4)