Detail Berita

Sekolah Daring Hingga Mahalnya Pupuk Jadi Keluhan Warga PPU

Rabu, 29 Juli 2020 | Oleh: Humas DPRD Prov
Sekolah Daring Hingga Mahalnya Pupuk Jadi Keluhan Warga PPU

Anggota DPRD Kaltim Herliana Yanti saat melaksanakan Reses atau Jaring Aspirasi di Kabupaten PPU baru-baru ini

SAMARINDA - Anggota DPRD Kaltim Herliana Yanti mengungkapkan bahwa selama melaksanakan reses atau jaring aspirasi di sejumlah wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara masyarakat mengeluhkan kendala dalam melaksanakan sekolah daring atau sekolah online yang dilakukan anak-anaknya semenjak pandemi covid-19. 

Tak hanya itu, mayoritas warga yang berprofesi sebagai petani mengeluhkan tingginya harga pupuk non subsidi dengan kualitas lebih bagus, hal itu menyebabkan warga kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pupuk demi hasil tani yang lebih baik.

"Tenaga PPI Pertanian juga dinilai perlu lebih optimal dan maksimal dalam mendampingi dan memberikan informasi maupun pengetahuan tentang pertanian kepada masyarakat. Ini yang disampaikan warga pada saat saat reses, padahal informasi terkait obat-obatan, pestisida dan info lain sangat penting bagi petani agar tidak merugi," ungkapnya.

Tak hanya itu, masyarakat usia produktif juga sangat memerlukan pelatihan kewirausahaan, banyak pemuda potensial yang jika diberi ilmu maka mereka tak hanya mengandalkan profesi petani saja.

Lanjut Herliana, saat ia ke Kecamatan Saloloang RT 14, warga setempat mengharapkan peningkatan jalan berupa semenisasi jalan disekitar Saloloang sepanjang 800 meter. Selain itu pembangunan jembatan kayu serta drainase juga perlu dibangun.

Herliana juga mengunjugi warga di Kelurahan Petung, warga di Petung berharap agar bantuan beasiswa bagi masyarakat di PPU dapat lebih merata dan mudah didapatkan. "Perekonomian warga yang sebagian berprofesi sebagai petani membuat mereka berharap besar atas bantuan beasiswa dan bantuan-bantuan lain terutama saat pandemi covid-19, belum lagi kondisi dan signal jaringan internet yang sangat lemah hingga beban harus menyediakan smart phone dan kuota internet. Bukan perkara mudah bagi mereka, sementara untuk keperluan sehari-hari saja sudah sangat pas-pas an. Ini menjadi agenda penting yang perlu dibahas untuk memudahkan mereka mendapatkan pendidikan yang layak," urainya. (hms5)